Sabtu, 13 Maret 2021

Review Buku Puisi Lintas Hayat (Serangkai Kenang dan Asa)

 

Review Buku Puisi Lintas Hayat (Serangkai Kenang dan Asa)

 

Judul Buku: Lintas Hayat (Serangkai Kenang dan Asa)

Penulis: Asri Diyah, dkk

Penerbit: Makmood Publishing

Tahun terbit: November 2020

Ukuran buku: 14 cm×20 cm

Jumlah halaman: 124 halaman

ISBN: 978-623-6596-19-7

 

Hidup berisi serangkaian lintasan yang masing-masing insan bisa jadi tidak sama. Lintasan-lintasan itu berisi kenangan masa lalu, kejadian masa kini, dan asa masa depan. Kita sering kali tidak bisa memilih hal apa yang kita suka dalam setiap lintasan. Semua berjalan sesuai takdir yang telah tertulis. 

 

 


 

Buku yang berisi larik-larik makna penuh nilai estetika ini disaksikan dengan manis oleh 20 penulis perempuan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh 20 penulis perempuan. Anda tidak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami puisi, prosa dan pantun yang disajikan sebanyak 124 halaman. Kendati di beberapa judul terdapat majas, secara menyeluruh diksi yang dipilih Asfi Diyah dan kawan-kawan bukanlah diksi langit yang sulit dipahami. Anda bisa dengan mudah memahami artinya setelah membaca satu kisah dengan tuntas. Seperti pada tulisan berikut ini.

Pohon luruh diganti bayang

Memercik daun berbelah layang

Sayang sungguh seribu sayang

Kekasih pujaan telah berpulang

Burung kenari hinggap dI perigi

Berkaca pada air sumur

Mematung hati sejak kau pergi

Berkata ulama itulah umur

 

Kain mama hanyut di kali

Terbawa arus tiada henti

Bagaimana aku menyambut pagi

Kini mentariku telah pergi

 

Bandung, 1 September 2020

Mia Siti Aminah

 

Dalam pantun di atas, penulis menunjukan kerinduan pada sang kekasih hati, sekaligus mengajak pembaca untuk mengingat kembali makna umur, bahwa yang telah pergi tak akan kembali. Ketika umur berakhir, hanya kenangan yang menghampiri.

 

Buku antologi bersampul hijau lembut ini sarat kisah melankolis yang menyelipkan ajakan untuk terus bersemangat menjalani kehidupan kepada pembacanya. Bait-bait sendu tidak serta merta membuat hanyut dalam putus asa dan penyesalan, tetapi justru mengajak pada perubahan. Seperti dalam dua tulisan cantik berikut ini.

 

Menggapai Jejak Harapan

Aku tidak ingat lagi sejak kapan aku mulai mencintai hujan. Setiap hujan berjalan turun dari langit, kebahagiaan datang melandaku. Apakah karena hembusan angin bawa aroma masa depan? Tatkala mending halilintar bersabung, aku merasa tak terbendung. Terbakar gairah kehidupan.

Gemuruh air hujan, bangunkan lamunanku. Ketika asaku membara, menghangat dalam kalbu.

Kini apakah ada bedanya antara mengkhayal masa depan gemilang dengan berharap hujan mengalirkanku untuk menggapai jejak harapan?

Pontianak, Agustus 2020

Septiani

 

Pendar Asa

Meniti jalan kian berliku

Hempas kerikil

Terjang aral

Tekad

Bulat

Hasrat imaji

Jati diri hakiki

Bertarung luka jua lara

Tiada putus harap digenggam

Berulang jatuh bangun

Tanah nian

Suluh

Kediri, 24 September 2020

Asri Diyah

 

Seperti yang ditegaskan dalam kata pengantar, bahwa lintas hayat adalah jalan kehidupan. Lintasan-lintasan periodik yang harus dilalui setiap insan. Selama hidup. Sepanjang hayat masih dikandung badan. Bagi Anda yang ingin menyesap hikmah dalam kisah nan puitis, buku ini cocok meneman hari sibuk Anda menjadi lebih berwarna

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DAN MENINGGALKAN KOMENTAR YANG BAIK DAN BUKAN SPAM. KAMI SANGAT MENGHARGAI KUNJUNGAN ANDA. SEMOGA BLOG INI MEMBERI MANFAAT DAN KEBAIKAN BAGI KITA.