Selasa, 09 Maret 2021

Review Buku Antologi Puisi Aku Tak Menyerah – Sebuah Rinai Perjuangan

 



Judul buku: Aku Tak Menyerah – Sebuah Rinai Perjuangan

Penulis: Asfi Diyah, dkk.

Penerbit: Makmood Publishing

Tahun terbit: Juli 2020

Ukuran buku: 14x20 cm                 

Jumlah halaman: 120 halaman

 

Sebagai manusia beriman kita harus yakin rencana Tuhan adalah yang terbaik. Karena Dia pengendali semesta dan segala isinya. Antologi Aku Tak Menyerah berisi kumpulan puisi apik karya 22 penulis. Tema yang diambil sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari misalnya, tentang orang tua, rumah tangga, pernikahan, serta perjuangan hidup.

 

Sebagian orang beranggapan bahwa puisi merupakan karya yang bersifat personal. Puisi ialah cerminan pemahaman penulis terhadap suatu hal dan ini tentunya sangat subjektif. Pemilihan diksi yang unik, penggunaan berbagai majas seperti, metafora, personifikasi, hingga hiperbola,  serta bentuknya yang tak biasa, menjadikan karya sastra satu ini sangat mudah dikenali.

 

Lantas, benarkah puisi sulit untuk dipahami isinya? Betulkah makna sebuah puisi hanya penulisnya yang tahu? Tidak semua puisi demikian, lo. Beberapa puisi dalam antologi Aku Tak Menyerah bisa kita tangkap pesannya dengan mudah. Sehingga dapat menjadi pengingat dan pelajaran agar senantiasa bersyukur serta tidak menyerah ketika menghadapi problematika kehidupan. Contohnya, puisi karya Syifa Soraya Zhafarina di bawah ini.

 

Bundaku

 

Buaiannya lembut dan manja, wajahnya anggun cantik jelita

Untuknya masa depan ‘kan kupersembahkan

Nanti kalau aku besar kau akan bangga

Dikau yang merawatku, akulah pelipur laramu

Agar aku kelak akan sukses dan bahagia

Kan kuingat semua jasamu, engkau juga pelipur laraku

Untukku yang selalu menyayangimu

 

Bandung, 25 April 2020

 

Sebuah puisi pesan cinta untuk ibunda tersayang. Mengingatkan kita agar senantiasa berbakti pada ibu dan terus berjuang memberikan yang terbaik untuk membuatnya bangga.

 

Perjuangan Cinta Sang Tenaga Medis

 

Ada kata, ada cela, ada luka, fitnah melanda tak mengapa

Inilah pengabdian cinta sang tenaga medis, tak kenal lelah

Karena cinta di atas segalanya. Tak miliki waktu sendiri, anak pun tak bisa jumpa

Hanya kata-kata tenangkan keluarga, walau dalam hati tangis berderai.

 

Apa kabar anakku sayang? Peluk melambai jauh tak terjangkau

Hanya tetes air mata yang mengerti betapa rindu tak terperi kepada yang terkasih.

 

Namun sayang, berjuang pun serasa sendiri, APD tak dapat penuhi kebutuhan kami. Abai dengan keselamatan diri, itu kata mereka. Tahukah kalian duhai pencaci, bagaimana rasa hati kalau kalian berada di posisi kami?

 

Teman seperjuangan jatuh berguguran, tapi harus tetap tegar menjulang seperti batu karang. Demi para korban yang terkena amuk paksa corona dan butuhkan bantuan.

 

Corona, kapankan engkau berlalu? Kami ingin hidup damai seperti dulu. Corona, cepatlah pergi, tak tega lihat banyak orang menderita karenamu. Corona, biarkan kami nikmati hari tenang, bahagia bersama keluarga dan tetangga. Corona, pergilah, kami ingin jalani ibadah Ramadan dengan khusyu.

 

Jakarta, 18 April 2020

 

Puisi karya Bunda Evalina tentang perjuangan para pahlawan medis, garda terdepan dalam memberikan pertolongan kepada pasien Covid-19. Curahan isi hati yang mampu memancing haru sekaligus menyadarkan kita betapa berharganya kesehatan dan pentingnya menerapkan protokol kesehatan yang ketat saat pandemi. Doa pun turut melangit, semoga pandemi segera berlalu. Aamiin ….  

 

Dapatkan bukunya di Makmood Mpstore atau Facebook: Makmood Publishing.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DAN MENINGGALKAN KOMENTAR YANG BAIK DAN BUKAN SPAM. KAMI SANGAT MENGHARGAI KUNJUNGAN ANDA. SEMOGA BLOG INI MEMBERI MANFAAT DAN KEBAIKAN BAGI KITA.