Jumat, 19 Maret 2021

Review Buku Aku dan Kenangan (Melintasi Waktu Membingkai Kisah)

 


 


Judul Buku: Aku dan Kenangan (Melintasi Waktu Membingkai Kisah)

Penulis: Erna Sulistya N., dkk

Penerbit: Makmood Publishing

Tahun terbit: Desember 2020

Ukuran buku: 14 cm×20 cm

Jumlah halaman: 214 halaman

ISBN: 978-623-6596-23-4

 

Hidup sejatinya adalah barisan kisah masa lalu yang masih terus diingat sampai sekarang. Semua kisah pada masa lalu yang mengantar kita berada di titik ini. Tak ada yang salah dengan kenangan. Semua melintas dalam hidup kita bukan secara kebetulan. Allah mengatur semua peristiwa itu hingga satu per satu mampu membuat kita membingkai setiap kisahnya dalam suatu perenungan akan makna kehidupan.

 

Semesta mengajak kita tetap tegar di antara kenangan-kenangan yang kadang tak bersahabat. Tentang kerinduan pada orang terkasih, tentang suatu masa yang tak mungkin kembali, tentang luka dan air mata, juga tentang kebahagiaan yang tak terulang. Goresan pena 31 penulis dalam buku ini membuka mata batin kita merenungi kisah-kisah dalam perputaran roda kehidupan yang terbingkai melewati ruang dan waktu. Melampaui selaksa harap dan pinta dalam dalam sebuah balutan kisah yang tertuang demikian manis dalam bait-bait indah.

 

Mari kita menyimak kedalaman makna dalam diksi-diksi indah para penulis ini.

KOSONG (Asfi Diyah, hal. 13)

Lamun

Hanya diri

Resapi arti berbagi

Usik resah pembuluh rindu

Nisbi

Langkah patah

Kosong atas hakiki

Menghitung isi hampa udara

Luka

Batin menangis

Tiada obat penawar

Meramu sepi bersama angin

Nihil

Pergi purna

Habis kalut menepi

Hingga lupa akan mengenang

 

Membaca buku puisi setebal 214 halaman ini memang harus pelan-pelan. Hal ini karena kita tidak selalu menemukan makna dari yang tersurat, tetapi lebih sering dari yang tersirat. Kita pun bisa memahaminya dengan lebih utuh dibanding bila dibaca sekilas saja. Puisi-puisi dalam buku ini mampu menghadirkan kehangatan dalam hati karena tidak melulu menyuarakan tentang keputusasaan. Anda akan terbawa suasana kehangatan, terutama bila Anda berusaha merenungkan larik-larik kenangan yang ditegaskan secara halus dalam setiap lembar puisi dalam buku ini. Selamat merenung.  

 

 

 

 

 

PETRIKOR (Risa Hasmaretni, hal. 52)

Pelik rasa penuh dilema

Epidermis meruam perih

Tinggalkan bekas tak memudar

Ragawi rasakan gemuruh rindu

Isak tangis kian terasa pilu

Kabut tebal menyapa senja

Oksigen tak lagi terhirup bebas

Rintiknya semakin deras menghilangkan perih yang ada

 

SERPIHAN LUKA (Nie, hal. 83)

Renyai

Rindu reda

Terperangkap bilur luka

Mengendap rasa antara cerita

Semerbak kemuning rasuki jiwa

Aku terpekur mengenang

Rentetan cerita

Amor

Ketika itu hujan renyai

Kita merangkai asa

Mengumbar rasa

Asmara

Kecewa

Terluka jiwa

Urung mengungkap kata

Mengungkap rindu menyepi sendiri

 

KIRANA (Ratna Hadi, hal. 174)

Kidung itu terdengar indah di telingaku

Iramanya mengalun merdu, menyentuh menyeruakkan haru

Rindu, subuah rasa yang merenjana dalam kalbu

Alam pun rasakan itu

Nyanyian angin menyampiakan pesan piluku padamu

Aku menanti di sini dalam gulanaku

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DAN MENINGGALKAN KOMENTAR YANG BAIK DAN BUKAN SPAM. KAMI SANGAT MENGHARGAI KUNJUNGAN ANDA. SEMOGA BLOG INI MEMBERI MANFAAT DAN KEBAIKAN BAGI KITA.