Selasa, 26 Mei 2020

Tetangga Antisosial


sumber gambar: pixabay.com

Borong, nih, Ce Titin?” tanya Ce Kokom, tetanggaku. Senyuman tawar dengan tatapan penuh selidik itu membuatku jengah.

“iya, dong, Ce. Emang ce Kokom enggak belanja buat persiapan lebaran? Betah banget di rumah aja. Awas nanti bertelur, loh, ” ledekku.

Aku bergegas masuk ke rumah. malas berbasa-basi dengan tetangga sombong dan sok kaya itu. Sejak ramai berita mengenai korona dia jarang sekali keluar rumah. Anak-anaknya tak diizinkan main ke luar. Dulu anakku sering main dan numpang makan di rumahnya. Namun sejak ramai virus yang katanya mematikan itu anakku dan anak tetangga lainnya tak dibolehkan lagi main ke rumahnya. Kata Ce Kokom semua orang harus diam di rumah dan menjaga jarak dan dilarang berkumpul. Ibu-ibu yang biasanya merumpi di teras rumahku jadi takut gara-gara ceramahnya. Anakku pun sampai menangis karena diusir dari rumahnya. Sejak itu Ce Kokom sering menjadi bahan nyinyiran tetangga.



Kuletakkan semua belanjaan di dapur lalu begegas ke kamar untuk melepas penat. Tubuhku terasa rontok setelah berdesak-desakan di pasar. Tapi aku senang karena bisa berburu baju lebaran dari pasar jumat, sabtu, dan berakhir di pasar senin. Ah, kata siapa semua orang di rumah saja? Wong, jalanan macet total. Toko baju, toko emas, sembako, daging dan sayur mayur paling ramai diburu. Lagipula suasana seperti ini biasa terjadi menjelang lebaran.

“Kang, baju barunya dicoba dulu, nih,” kuberikan baju koko berwarna putih cerah. Suamiku itu tak pernah protes dengan pilihanku. Anakku Sinta pun sangat antusias mencoba baju, sandal, dan perlengkapan solat baru. pokoknya semua harus serba baru. Awalnya aku pun ingin rumah berukuran 4x6M3 yang kami tempati saat ini bisa direnovasi agar terlihat lebih bagus, jika perlu lebih bagus dari rumah Ce Kokom.

Rumah peninggalan orangtuaku ini dari luar terlihat sangat kumuh. Sebagian dindingnya terbuat dari bilik. Lantainya masih ubin, sebagian retak di sana-sini. Secara fisik rumahku sangat kontras dengan rumah Ce Kokom yang minimalis namun elegan. Dari luar orang bisa melihat kalau rumahku kurang layak. Walau begitu isi rumahku jauh lebih lengkap. Ada televisi 32 inchi, lemari es dua pintu, dan mesin cuci. Tapi semua itu kusembunyikan di kamar lain agar kami tetap terlihat sederhana. Aku sudah berganti motor tiga kali meskipun hasil kredit. Sedangkan Ce Kokom masih setia dengan motor bututnya. Perabotannya pun paling sedikit.  

Rumah sederhana ini cukup menguntungkan bagi keluargaku. Banyak bantuan sosial bisa kami dapatkan, baik dari pemerintah maupun donatur. Karena itu renovasi rumah seringkali kami urungkan karena khawatir bantuan yang kami dapat selama ini akan dicabut. Kalau dengan terlihat miskin membuatku jadi lebih kaya kenapa harus repot mencari kerja? Begitu kata Kang Dadang.

“Uangnya jangan dihabisin, Mah. Sisain buat bagi-bagi ke saudara,” ujar Kang Dadang

“tenang aja, Kang. Beli baju baru kan pakai uang dari Bansos. Lagian buat apa bagi-bagi thr? Kan biasanya juga kita yang dikasih,”jawabku. Aku dan Kang Dadan tertawa.  
      
“Ce Kokom dan Kang Ujang kok tumben, ya, enggak ngasih THR ke kita?” Kang Dadan menghampiriku, membuka bajunya lalu menggantungkan baju itu di hanger.

“Akang kayak enggak tahu aja. Sejak ada korona, Kang Ujang diPHK, usaha Ce Kokom juga gulung tikar. Makanya mereka di rumah aja. Udah miskin mereka!” jawabku ketus.
“lho, emang mereka enggak dapet bantuan?”

“Enggak. Belum rezeki kali!” jawabku kesal. Sebenarnya aku pun merasa  heran karena Ce Kokom tak menerima bantuan. Padahal Ibu Inong, Bu Haji Sofa, Marwa dan Bu Maria yang jauh lebih kaya darinya ikut mengantre di kantor pos bersamaku.

Biasanya Ce Kokom dan suaminya selalu membagikan uang kepada tetangga terdekat. Dia juga selalu membelikan baju baru untuk anakku Sinta. Mungkin karena usahanya bangkrut dia jadi stress, makanya  berubah sombong dan anti bergaul seperti sekarang.

“Mama jemur pakaian dulu, ya, Pa, males banget ngomongin tetangga sebelah!”

Aku bergegas ke dapur dan mengambil cucian yang belum sempat kujemur. Kulihat Ce Kokom dan suaminya sedang menghitung bingkisan di teras rumah. Mungkin mereka baru saja mendapat bantuan.  

Aku mendekat. Jarak mereka kini tidak terlalu jauh denganku. Saking sibuknya menghitung bingkisan mereka tidak menyadari keberadaanku.  

“Alhamdulillah, walaupun tahun ini kita enggak kebeli baju baru, tapi kita masih bisa berbagi untuk orang lain,” ujar Ce Kokom. Kulihat dia memasukankan amplop ke dalam bingkisan itu.

“kita berdoa saja, Bu, semoga wabah ini segera berakhir. Semoga dengan berkahnya sedekah kita semua selalu dijaga oleh Allah,” kata Kang Ujang menasihati istrinya.  

Kulihat Kang Ujang menyerahkan dua lembar uang merah pada Ce Kokom. “ini untuk kebutuhan kita, semoga cukup untuk satu minggu ya, Ma.”

Dua ratus ribu seminggu? Cukup buat apa? Kalau Kang Dadang yang bilang begitu udah pasti kumaki-maki dia. Dasar tetangga sok kaya, udah tahu bangkrut masih saja sibuk mikirin hidup orang.
“Eh, ada Ce Titin?” tiba-tiba Ce Kokom sudah berdiri di hadapanku.

Aku tergagap. Malu karena ketahuan mencuri dengar.

Ce Kokom menyerahkan sebuah bingkisan kepadaku. “Ini untuk Ce Titin,” katanya dengan senyum tulus.

Kuterima bingkisan itu dengan tangan gemetar. Ingin mengucapkan terima kasih tapi tak ada satu pun kata yang keluar. Di depan pintu rumah kubuka bingkisan itu. Isinya 2 Kg beras, 1 liter minyak sayur, telur, dan sebuah amplop berisi uang lima puluh ribu rupiah.

Ya Allah, Aku merasa Ce Kokom sedang menamparku. Pelan, tapi mampu meruntuhkan kebencian yang sempat menggerogoti hatiku.  

  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DAN MENINGGALKAN KOMENTAR YANG BAIK DAN BUKAN SPAM. KAMI SANGAT MENGHARGAI KUNJUNGAN ANDA. SEMOGA BLOG INI MEMBERI MANFAAT DAN KEBAIKAN BAGI KITA.