Suamiku, maukah Kamu berpoligami?

Hai Emak-Emak dan Bunda-Bunda Sholihah...
Pagi ini saya mau cerita. Bukan sekedar rumpi, loh, ya...

Kali ini saya ingin bercerita tentang seorang istri yang depresi setelah dipoligami.

Mak, beberapa tahun yang lalu..
Pagi- pagi sekali biasanya saya  bertugas untuk memandikan "santriwati" dengan gangguan mental dan kejiwaan.

Ibarat memperlakukan seorang bayi, setelah mereka selesai mandi, saya akan membantu mereka memakaikan pakaian, menyisir rambutnya, membedaki wajahnya dan memakaikan jilbab.

Setelah itu mereka akan berjejer rapi dan berjemur di halaman asrama. Ada yang bernyanyi sendiri, ngoceh, marah-marah nggak jelas, dan banyak lagi hal unik yang seringkali membuat saya tertawa melihat tingkah polah para santriwati tersebut.

Suatu hari kami kedatangan  seorang santri baru. Cantik, dan tampak sangat kalem. Dibandingkan santri lain yang sering mengamuk diawal masuk pesantren, dia lebih banyak diam dengan  pandangan yang kosong.

Saat saya mengajaknya berbicara, dia akan diam seribu bahasa. Jika didekati dia akan menangis.
"Oh, mungkin dia hanya mengalami depresi ringan saja" Begitu fikir saya kala itu.

Konon yang membuatnya seperti itu adalah karena dia depresi dengan sikap suaminya. Dia dipoligami. Sang suami lebih memilih istri muda daripada dia.

Awal masuk ke pesantren dia begitu penurut. Tapi beberapa hari kemudian, dia justru jadi sangat kasar dan galak terhadap teman sekamarnya. Dalam satu kamar hanya ada 2 orang. Dia yang pendiam ternyata suka sekali memicu pertengkaran.

Biasanya saat disuruh mandi dia langsung ke kamar mandi. Tapi kali ini, dia mengamuk sejadi-jadinya. Hampir saja dia membenturkan kepala saya ke dinding kamar. Untunglah ada petugas lain yang membantu saya.

Pipi Perempuan itu penuh dengan cakaran, rambutnya berantakan dan awut-awutan.
Semakin hari sikapnya semakin agresif. Dia yang semula masih terlihat sangat cantik, berubah bak pemain sinetron horor.

Saat itu saya belum menikah, saya juga belum mengerti bagaimana mendalami perasaan perempuan yang dipoligami.

Entah mengapa setiap kali bertemu dengan sesama perempuan dia langsung mengamuk sejadi-jadinya, bahkan dengan teman sekamarnya pun seringkali ribut.
Akhirnya, kami terpaksa memindahkannya ke ruangan lain.

Emak-Emak sayang...
Saya beberapa kali bertemu perempuan yang sampai mengalami depresi parah akibat ulah suaminya.
Saya juga pernah beberapa kali bertemu perempuan yang dijual oleh suami.
Ada juga perempuan yang rela menjadi WPSL (Wanita Pekerja Seks Langsung) maupun WPSTL (Wanita Pekerja Seks tidak Langsung) sementara sang suami asyik berduaan dengan perempuan lain. 😭😭😭

Lantas, apakah hal ini membuat saya jadi membenci poligami??

Tidak, Mak. Saya bukan perempuan anti poligami.  Diawal pernikahan, saya pernah mengatakan pada suami tercinta, bahwa jika suatu saat dia ingin berpoligami, silahkan saja. Siapapun yang akan dia nikahi, saya ikhlas dan rela jadi saksi.
Setelah itu saya akan cukupkan tugas dan pengabdian saya sebagai seorang istri. Selesai.

Tahu nggak, apa jawaban suami saya?

"Anti minni, wa ana minki. Laa budda sya'iun fiihi"
Kamu adalah bagian dari diriku dan aku bagian dari dirimu. Tidak ada yang lain selain itu. Hi..hi.. So sweet, yaa...

Sebenarnya bukan hanya itu saja yang membuat dia berfikir ribuan kali untuk berpoligami. Masalahnya saya dan Dia sudah beserta. Dia mengenal saya sebagaimana saya mengenalnya.

Jika boleh meminjam istilahnya Bang Sakhrukh Khan:
" Rabne Bana de Jodhi"; yang artinya:
"Aku melihat Tuhan didalam dirimu. Aku melihat Tuhan didalam diri istriku"

Jadi, Mak... Poligami itu tidak dilarang, asalkan sesuai syariat dan bisa berlaku adil. Namun kalau boleh jujur, nih... Saya angkat topi setinggi-tingginya untuk para suami yang setia dengan satu istri.

"Dan Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya) maka nikahilah wanita lain yang kamu senang: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. "
(Q.S An-Nisa: 3)

Jadi, Emak-Emak Sholihah..

Jika Emak sanggup bertahan dan sanggup dipoligami oleh suami, maka bertahanlah. Tapi jika tidak, tidak ada paksaan untuk itu.

Tidak semua perempuan sekuat batu karang. Ada yang kuat dan enjoy saja saat suaminya berpoligami, ada juga yang depresi dan justru menyakiti dirinya sendiri. Bukankah sebaik-baiknya suami adalah yang baik akhlaknya terhadap keluarganya?
Lantas bagaimana jika sang suami malah membuat istrinya depresi dan mengalami gangguan kejiwaan setelah dipoligami?

Jadi Mak, jangan saling menjatuhkan hanya karena Emak yang satu menolak dipoligami sedangkan Emak yang lainnya ikhlas dipoligami. Jangan...

Jangan merasa Emak paling baik dan paling dijamin masuk surga hanya karena sudah menjalani poligami. Karena jaminan surga bukan hanya dari poligami.

Ada banyak pintu surga yang bisa kita raih. Jangan mencari surga, tapi jangan pernah mendekati neraka. Dekati saja pemilikNya.
"LIHATLAH TUHANMU DI DALAM DIRI KEKASIHMU"

Tulisan ini pernah saya share di channel telegram:
t.me/NurdianahDixit

0 komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DAN MENINGGALKAN KOMENTAR YANG BAIK DAN BUKAN SPAM. KAMI SANGAT MENGHARGAI KUNJUNGAN ANDA. SEMOGA BLOG INI MEMBERI MANFAAT DAN KEBAIKAN BAGI KITA.