LATAH TA’ARUF BERMODUS PACARAN

ilustrasi gambar: www.griyatilawah.com


Dewasa ini proses ta’aruf lebih identik dengan pacaran. Ta’aruf hanya digunakan sebagai alasan untuk memperhalus bahasa dan mengaburkan pandangan masyarakat. padahal, ta'aruf sangat berbeda dengan pacaran. ta'aruf adalah jalan untuk saling mengenal diantara pria dan wanita menuju jenjang suci pernikahan dengan didampingi mahramnya ataupun keluarganya. ta'aruf adalah proses saling mengenal dengan batasan-batasan syari'at yang harus dijaga. sedangkan pacaran adalah hubungan antara pria dan wanita untuk saling memadu kasih, saling mencintai tanpa ada batasan syari'at di dalamnya.

Istilah pacaran bukan hanya milik mereka yang tak mengerti hukum syari’at agama. Nyatanya,  wanita berjilbab sekalipun sudah tak lagi malu-malu  atau canggung saat berduaan dan berpacaran ditempat umum. dengan alasan sedang proses ta'aruf, tapi bisa bebas bergandengan dan berduaan tanpa rasa canggung dan malu sedikitpun.

Pergaulan remaja saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak? Tidak punya pacar dianggap tidak gaul. Masih Perawan/ perjaka dianggap ketinggalan zaman. Pacaran masa kini lebih mengarah pada hubungan intim layaknya suami-istri. “perkosaan dalam pacaran” biasa terjadi, tapi dianggap biasa dengan dalih suka sama suka dan mau sama mau.

Faktanya, tindak pemerkosaan dan pelecehan seksual justru sebagian besar dilakukan  oleh pacarnya sendiri. “perkosaan dalam pacaran” biasa terjadi karena si pria mengancam akan memutuskan hubungan jika pacarnya tak mau diajak bersetubuh. 

Pacaran seolah menjadi hal yang lumrah. Bahkan, anak-anak Sekolah Dasar pun sudah tahu arti pacaran. Maraknya sinetron yang berbumbu romantisme dikalangan anak-anak kita, menjadi racun yang sangat berbahaya terhadap pola fikir dan karakternya. 

Berikut ini fakta mengejutkan  tentang gaya pacaran dan seks bebas remaja dalam 34 FAKTA kenakalan remaja; (www. http://intanimaningtyas.wordpress.com/)


Pada tahun 2003 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) melakukan Survey di lima kota besar,diantaranya Bandung,Jakarta, dan Yogyakarta. Hasil survey PKBI, yang juga dikutip media Indonesia, dinyatakan 85 persen remaja berusia 13-15 tahun mengaku telah melakukan hubungan seks sengan pacar mereka.

Penelitian LSM Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara) Bandung antara tahun 2000-2002, remaja yang melakukan seks pra nikah, 72,9% hamil, dan 91,5% diantaranya mengaku telah melakukan aborsi lebih dari satu kali. Data ini didukung beerapa hasil penelitian bahwa terdapat 98% mahasiswi Yogyakarta yang melakukan seks pra nikah mengaku pernah melakukan aborsi.

Secara kumulatif, aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3 juta kasus pertahun. Setengah dari jumlah itu dilakukan oleh wanita yang elum menikah,sekitar 10-30% adalah para remaja. Artinya, ada sekitar 230 ribu sampai 575 ribu remaja putri yang diperkirakan melakukan aborsi setiap tahunnya. Sumber lain juga menyebutkan, tiap hari 100 remaja melakukan aborsi dan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja meningkat antara 150.000 hingga 200.000 kasus setiap tahun. 

Sebagai orangtua, kita tentu tak mau anak-anak kita terjerumus pada hal-hal yang demikian. Hal terpenting yang harus dilakukan orangtua diantaranya:

1.        Tanamkan Pendidikan akhlak dan pemahaman agama yang benar
Pada dasarnya, kenakalan remaja dan penyimpangan seksual yang terjadi dikalangan remaja karena minimnya pemahaman agama seseorang. Dengan benteng iman yang kuat dan pendidikan akhlak yang baik, anak akan mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dengan pendidikan akhlak, anak akan menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma agama.
Ajarkan anak laki-laki kita untuk menghargai dan menghormati wanita sebagaimana ia menghormati ibunya. Demikan pula halnya kepada anak-anak perempuan kita. Hendaknya kita ajari mereka untuk menghormati dan menghargai laki-laki selayaknya mereka menghormati ayahnya.
 “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.

2.       Hindari pacaran, menikahlah!

Pacaran adalah nama lain dari zina. Dan siapapun tahu, bahwa zina adalah dosa. Seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram saling memadu kasih diluar ikatan pernikahan, maka apapun yang mereka lakukan akan menjadi dosa baginya.
Rasulullah SAW bersabda:
Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”

Hal-hal yang dianggap wajar dalam pacaran namun menjadi dosa besar bagi yang melakukannya dimulai dari saling bertatapan, saling bepegangan tangan hingga akhirnya melakukan hubungan yang lebih intim dan tidak pantas dilakukan. Jadi, tidak ada pacaran yang sesuai syari’at islam. Tidak ada pacaran yang mendapat pahala. Yang ada justru semakin menabung dosa.

Ath-Thabarani meriwayatkan, Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya: Awaslah kamu dari bersendirian dengan wanita, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tiada seorang lelaki yang bersendirian (bersembunyian) dengan wanita malainkan dimasuki oleh setan antara keduanya. Dan seorang yang berdesakkan dengan babi yang berlumuran lumpur yang basi lebih baik daripada bersentuhan bahu dengan bahu wanita yang tidak halal baginya.

Dalam Hadits lain dikatakan:

Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.

menikah adalah jalan paling aman bagi remaja yang sudah tak sanggup menahan hasrat seksualnya. Menikah dini lebih baik daripada berpacaran yang nyata haram hukumnya. Dengan menikah, seseorang jauh lebih dihargai dan dihormati. Punya status yang jelas. Lain halnya dengan pacaran yang belum tentu tahu mau dibawa kemana arahnya. Menikah menjadikan hidup seseorang lebih terarah dan lebih bertanggung jawab. Menikah juga menjadi ladang amal bagi suami maupun istri.

Jadi? masih mau pacaran atau menikah?

7 komentar:

  1. Yah begitulah tanda-tanda akhir jaman... semua dibahasakan secara agama, padahal isinya?

    BalasHapus
  2. Isi dan kulit seringkali berbeda teh gina, begitulah dunia. Tugas kita adalah untuk mengingatkan saudara kita, agar yang sudah nampak indah di luar akan semakin indah dan terpancar juga yang di dalam. agar indah luarnya, bagus pula isinya. hatur nuhun teh, sudah berkunjung.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. thank you very much for the information provided

    BalasHapus

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DAN MENINGGALKAN KOMENTAR YANG BAIK DAN BUKAN SPAM. KAMI SANGAT MENGHARGAI KUNJUNGAN ANDA. SEMOGA BLOG INI MEMBERI MANFAAT DAN KEBAIKAN BAGI KITA.