ANAKKU,GURU KEHIDUPANKU.


Siapapun di dunia ini tak ada yang memungkiri bahwa seorang ibu adalah guru terbaik bagi anaknya.
Tapi tahukah bunda,bahwa sebenarnya anakpun adalah seorang guru bagi ibunya,
guru yang mengajari banyak hal, sejak ia berada dalam kandungan hingga  setelah ia dilahirkan.

Bayi mungil itu mengajari ibundanya banyak hal, tanpa kata-kata dan tanpa bahasa.
Bahasanya adalah tangisan dan senyuman, dengan tangisannya itulah ia mengajari ibundanya banyak hal, diantaranya ilmu kesabaran, keikhlasan dan kepasrahan.

Ini adalah kisah tentang almarhum malaikat kecilku, putra kesayanganku; Namanya MUHAMMAD ROOSIKHUDIN, kami  Memanggilnya Rossy.
 (seharusnya) saat ini adalah ulang tahunnya yang ke- 2 tahun, tapi saat ini dia telah pergi menghadap Sang Pencipta. Dialah yang mengajariku betapa seorang bayi mungil sudah dibekali Tuhan Kesabaran, keikhlasan dan kepasrahan pada TuhanNya.

Sejak dimulainya proses kehamilan, hingga saatnya melahirkan, ia sudah mengajari  bundanya untuk bersabar. Bersabar menanggung rasa sakit, lelah dan payah.
Saat perut sang bunda semakin membesar ia semakin menguatkan sang bunda untuk semakin bersabar menanti kehadirannya. Setiap gerakannya di perut sang bunda, memberikan hiburan dan kekuatan baru bagi bundanya, seolah ia mengatakan:
“sabar ya bunda,sebentar lagi bunda akan melihat betapa cantik/tampannya anakmu, setelah aku lahir nanti bunda pasti akan bahagia melihatku.






Melihat bayi mungil nan lucu adalah kebahagiaan terbesar bagi seorang Ibu. Tangisan pertamanya saat Ia dilahirkan ke dunia mampu mengobati rasa sakit  yang mendera disaat melahirkan.

Hari demi hari dilalui dengan penuh kebahagiaan bersama si kecil, senyumannya, ocehan riangnya, bahkan tangisannya, memberikan warna tersendiri dalam kehidupanku sebagai seorang ibu.
namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama,
saat bayi mungilku berusia  3 bulan, ia mulai sakit-sakitan. Setiap ia menangis seluruh  tubuhnya membiru, bahkan jika ia menangis terlalu lama seluruh tubuhnya menjadi  tampak  memar  dan membengkak, nafasnya cepat dan tersengal -sengal.
ia mudah sekali demam dan batuk pilek, karena itu dua minggu sekali kami membawanya ke dokter specialis anak.

atas saran dokter specialis anak akhirnya aku membawanya  ke RS.Harapan Kita Jakarta untuk pemeriksaan lebih intensif.
Disana Anakku diperiksa secara lengkap dan menyeluruh, mulai dari konsultasi dengan dokter specialis jantung anak, pemeriksaan EKG(Elektrokardiogram), dan ECHO(echokardiografhy).
Setelah pemeriksaan selesai dokter Ahli specialis jantung yang memeriksa anakku memanggilku keruangannya. Dia tunjukkan kepadaku  hasil rekam medis anakku.

Dokter itu menjelaskan panjang lebar tentang penyakit jantung bawaan yang diderita anakku. Anakku menderita penyakit jantung bawaan  VSD, (Ventracular Septal Defect)/ Sekat Bilik Jantung Berlubang. Yaitu kelainan jantung berupa lubang pada sekat antarbilik jantung yang menyebabkan kebocoran aliran darah pada bilik kiri dan kanan jantung. Kebocoran ini membuat sebagian darah kaya oksigen kembali ke paru-paru sehingga menghalangi darah rendah oksigen memasuki paru-paru. 

Tapi bukan hanya itu, ia memiliki kelainan jantung bawaan yang sangat kompleks, menurut dokter yang menanganinya kalau tidak segera dioperasi maka paling lama ia sanggup bertahan hidup hanya sampai usia 6 bulan. Operasipun harus bertahap, tidak hanya sekali tapi  empat  kali. itupun tidak menjamin ia sembuh, karena operasi hanya membantunya untuk bisa bertahan hidup lebih lama.

Aku pasrah, sakit rasanya melihat anak yang ku cintai menanggung kesakitannya seorang diri. Andai boleh memilih, biarlah aku yang menanggung semua rasa sakitnya.
Sebagai seorang ibu, rasanya jauh lebih sakit melihat anak yang dicintainya menderita daripada ia sendiri yang menderita. Setiap menatap wajah mungilnya mataku selalu basah.

Hebatnya, anakku adalah bayi kecil yang tabah dan kuat. saat ia melihatku ikut menangis, ia akan  berhenti menangis. Mungkin ia ingin menunjukan pada ibunya bahwa ia baik-baik saja dan kuat menanggung penyakitnya. Tatapan matanya selalu menguatkanku, mata indah yang menunjukan betapa kuatnya ia, betapa ikhlasnya ia menanggung penderitaannya sendiri.
Bayi sekecil ini…inikah cara Tuhan mengajariku keikhlasan?

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya terlahir sempurna tanpa cacat,tanpa kelainan. Tapi apa hendak dikata, anakku ditakdirkan demikian. Mungkin Tuhan sedang menguji kami, atau mungkin juga Tuhan percaya kami mampu menjaga amanahnya itu.
Dengan berbagai cara aku dan suamiku  berusaha agar anakku bisa tetap bertahan hidup. jalur medis hingga alternatif  kami tempuh demi kesembuhannya.
Bahagia rasanya saat ia bisa bertahan hingga usia 1 tahun. Saat itu kami yakin bahwa harapan hidup anakku masih panjang meski tanpa operasi.
ia semakin sehat, semakin lincah dan ceria. Hanya saja berat badannya tak juga naik meskipun ia makan sangat banyak. Usianya sudah 1 tahun, tapi  berat badannya hanya 6kilo gram, sama seperti bayi berusia 4 bulan. Saat ada pemeriksaan dari puskesmas di kampungku, anakku dimasukkan dalam kategori anak yang mengalami Gizi buruk. Sedih dan sakit hati rasanya.

                                                        (Rossy saat berumur 1 Tahun)


Manusia berusaha, tapi Tuhan jua yang berkehendak. Betapapun hebatnya kami berusaha, anakku  harus pergi jua menghadap Sang Pencipta. Saat itu usianya  sekitar  1,5 tahun.
Di detik-detik terahirnya ia tidak dalam keadaan sakit. Bahkan dari pagi hingga sianghari  sepertinya ia hanya ingin disusui dan tak mau lepas sedikitpun dariku. Saat itu pekerjaanku sedang sangat banyak.
Akhirnya kutitipkan anakku pada ibuku untuk sementara waktu. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menjemputnya kembali.
Tapi ternyata itulah saat terakhir aku bersama dengannya. Sungguh, seandainya aku tahu ajal akan menjemput putra kesayanganku, niscaya akan ku peluk ia erat-erat dan tak akan kulepaskan dari gendonganku. Aku hanya meninggalkannya selama dua jam, tapi waktu dua jam itulah yang membuatku menyesal hingga saat ini.

                                                              (Rossy saat tertidur pulas)

Saat aku datang untuk menjemput anakku, ku dapati ia sedang menangis pelan sekali. Tangisannya sangat lemah, tubuhnya membiru, matanya sangat sayu dan tak lagi bisa menatapku. Aku menjerit histeris, aku tak menyangka anakku akan seperti itu sepeninggalku.

mungkin ia terlalu lama menangis, mungkin ia terlalu berat menahan sakit. Ku gendong ia dengan hati hancur dan penuh penyesalan, sebisa mungkin kutahan air mataku agar tak jatuh di wajah mungilnya. kubisikkan sholawat yang biasa ku lantunkan setiap menidurkannya. benar saja, setelah kulantunkan sholawat itu nafasnyapun terhenti. Anakku tertidur pulas sekali. Kufikir  ia hanya tertidur, dan tak lama lagi ia akan terbangun kembali saat ia haus dan lapar.

Sungguh, aku tak percaya saat suamiku mengatakan anakku telah tiada. Aku yakin ia pasti terbangun, tapi harapan tinggal harapan, bayi mungilku terlalu lama tertidur dan tak bisa dibangunkan. Tangisanku tak jua membangunkan mimpi indahnya. Bahkan saat kami mengantarnya ke  tempat peristirahatan terakhirnya, aku masih belum percaya bahwa anakku benar-benar  telah tiada. Dunia terasa hampa, hidup rasanya tak lagi bermakna.

Malam itu hujan turun sangat lebat,setelah memompa ASI dan memasukkannya ke botol susu, aku segera berlari menuju makam anakku.
“nak,mama datang…kamu sedang apa nak, ini mama bawakan sebotol susu dan payung untukmu. Kamu,  pasti kehausan dan kedinginan. Mama rindu kamu nak, mama ingin memelukmu”.
Aku sadar ini gila, tapi aku tak bisa mengontrol diriku setiapkali teringat pada anakku.
suamiku selalu mengingatkanku untuk bisa pasrah menerima kenyataan. Ikhlas menerima takdir dan ketetapanNya.

Aku tahu sebenarnya  suamiku sama terlukanya denganku, ia sama sedihnya denganku. Tapi jiwa lelakinya masih bisa menguatkan dirinya untuk tidak menampakkan kesedihan itu.
Aku pernah mendapatinya diam-diam menangis menatap foto anakku, tapi kesedihannya itu tak pernah ia tampakkan dihadapanku.

Suatu malam aku bermimpi, melihat anakku asyik bermain di sebuah Taman yang indah. Wajahnya berseri-seri. Rupanya bayi mungilku sudah tenang disana.
Kini aku mengerti, melalui anakku Tuhan mendidikku.

anakku menjadi Guru kehidupanku. mengajariku untuk sabar, ikhlas dan tawakkal dalam menjalani kehidupan. Aku menyayanginya, tapi Tuhan lebih menyayangi dia daripada aku, karena itulah Dia ambil kembali anakku, agar ia tak lagi menderita.

aku tahu,kini ia tak lagi sakit dan menderita,karena sudah bahagia bersama Tuhannya.


2 komentar:

  1. Saya sangat terharu membacanya, Mbak. Semoga Allah memberi kesabaran dan ketabahan buat Mbak sekeluarga. aamiin... ira

    BalasHapus
  2. Amieen...terima kasih banyak atas do'anya mba ira,mudah-mudahan Allah selalu menguatkan hati kami.

    BalasHapus

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DAN MENINGGALKAN KOMENTAR YANG BAIK DAN BUKAN SPAM. KAMI SANGAT MENGHARGAI KUNJUNGAN ANDA. SEMOGA BLOG INI MEMBERI MANFAAT DAN KEBAIKAN BAGI KITA.