Hallo Sobat Mamake, apa kabar?



Waah, udah lama sekali nih, Emak kemoceng enggak datang menyapa. Cukup lama saya hiatus menulis di blog ini. Rutinitas offline membuat saya sulit sekali mengatur jadwal menulis di sini. Doakan  ya, Sob, semoga di tahun 2020 ini bisa lebih konsisten mengisi rumah ini.



Sob, Di tahun 2019 lalu banyak perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). bagaimana dengan Sobat? Apakah mengalaminya juga?



Qodarullah, Kakang Prabu  tercinta pun harus mengalaminya. setelah lebih dari sepuluh tahun menjadi karyawan, suami Mamake terkena PHK juga. Akhirnya, Kami memutuskan untuk mengambil dana Jamsostek/ BPJS ketenagakerjaan untuk modal usaha.



Ternyata nih, Sob, proses pengajuan klaim pengambilan Jaminan Hari Tua itu cukup mudah, loh! Kita tidak perlu lagi berdesak-desakan atau antri  berjam-jam  di kantor BPJS Ketenagakerjaan.



Sejak bulan Juli 2018 Pendaftaran antrian bisa dilakukan secara online. Tentunya ini akan lebih aman, nyaman dan cepat. Alhamdulillah setelah mendaftar via online, pada tanggal 10 Januari 2020 lalu akhirnya kami datang ke kantor BPJS Ketenagakerjaan untuk menyerahkan semua persyaratan pengajuan klaim.


Sobat Mamake berniat mengajukan klaim BPJS ketenagakerjaan juga?



Mau tahu caranya?



Saya akan merngulas lima cara mudah proses pengambilan dana Jaminan Hari Tua (JHT) untuk tenaga kerja PHK/ Resign dan tidak bekerja lagi di perusahaan.





1                1. Daftar online


Sekarang ini semua sudah canggih, Sob. Apa-apa serba online. Kalau dulu kita bisa ngantri dari pagi sampai sore di kantor BPJS ketenagakerjaan (dulu jamsostek) sekarang kita cukup daftar online untuk ambil nomor antrian.

Untuk antrian online tersebut, Sobat bisa mengakses website: antrian.bpjsketenagakerjaan.go.id



Setelah itu, Sobat  akan diminta untuk:

 Mengisi data lengkap dengan benar sesuai E-KTP dan   KPJ.
Pilih Wilayah Pelayanan, kemudian Cabang Pelayanan.
 Pilih tanggal kedatangan.
Di kolom ini Emak diminta memilih tanggal dan hari kedatangan. Pilih hari kerja ya, Mak, senin  sampai dengan  jum’at. Jangan memilih Sabtu-minggu karena kantornya sudah pasti tutup. Jika tanggal dan hari yang emak pilih tidak bisa dipilih, itu berarti kuota sudah penuh. Tenang, masih ada hari esok, Mak. Pilih saja hari yang masih kosong.   
Pilih jam kedatangan
Isi captcha dengan benar
Klik simpan




2.  Datang ke Kantor Cabang BPJS terdekat




Setelah berhasil mendapatkan nomor antrian online dan mendapatkan jadwal kedatangan, tentunya Sobat wajib banget datang ke kantor BPJS Ketenagakerjaan. Sebaiknya  kita datang 30 menit sebelum  waktu yang telah dijadwalkan ya, Sob! Lebih baik menunggu sebentar daripada datang terlambat, bukan? 








                3. Mengisi formulir dan membawa persyaratan lengkap




Meskipun kita sudah mendaftar online, di Kantor BPJS Ketenagakerjaan kita akan diminta mengisi data tenaga kerja. Jangan lupa membawa semua berkas persyaratan pengajuan Jaminan Hari Tua dengan lengkap, ya.



Syarat pengambilan JHT di Kantor BPJS antara lain:



1.       Membawa KTP, KK dan kartu Jamsostek / Kartu BPJS ketenagakerjaan asli dan copy

2.       Surat pengalaman kerja/ paklaring asli dan copy

3.       Copy Buku Rekening tabungan atas tenaga kerja. 





             4. Validasi data


Setelah mengisi data dengan lengkap, selanjutnya formulir dan persyaratan lengkap tersebut kita serahkan kepada Admin untuk divalidasi. Jika datanya sudah valid, Sobat Mamake akan menerima bukti saldo JHT yang nantinya akan dikirim ke rekening pribadi. Jadi, enggak perlu balik lagi ke Kantor BPJS untuk mengambil uang.

Masa tunggu pencairan dana BPJS ketenagakerjaan antara 7-14 hari kerja. Tapi biasanya belum seminggu pun dana sudah cair, kok. Coba saja rajin cek atm. hehehe...







           5.  Menunggu transferan


Ini adalah moment paling mendebarkan buat Mamake. Rasanya hari terasa begitu panjang dan lama. Bolak-balik ngecek saldo atm, berharap uang segera cair, apa daya yang ditunggu tak datang juga. Hehehe..

Makanya, pakai Mbanking supaya tak lelah hati menunggu tabokan, eh, transferan.





Ohya, Sob, Kami mengajukan pengambilan JHT di kantor BPJS ketenagakerjaan Cabang Cikupa. Tadinya sempat khawatir si kecil akan rewel saat harus mengantre. Bingung bagaimana kalau dia menangis saat meminta ASI. Alhamdulillah, di sana sudah disediakan ruang khusus ibu menyusui. Wah, rasanya itu seperti menemukan surga tersembunyi. Mamake senang sekali  karena si bayi bisa beristirahat dengan nyaman saat menunggu antrean.



Sayangnya, di sini kita dilarang keras mengambil gambar tanpa izin. Jadi jangan harap Sobat Mamake bisa berswafoto di dalam ruangan, ya. Saya sendiri pun sempat ditegur Petugas saat mengambil gambar, karena itu gambar yang ada di blog ini semua saya dapatkan dari luar ruangan.





Nah, sobat Mamake, semoga cerita Emak kemoceng hari ini bermanfaat, ya.




Cover Depan Buku BE EM BE
Menjadi  Muslimah yang hidup diakhir zaman haruslah kuat. Bukan hanya kuat jasmani tapi juga rohani. Karena muslimah adalah tiang penyangga dalam rumah tangga, yang didalamnya ada penerus bangsa. Muslimah yang kuat akan mendidik genarsi penerus yang kuat dan tangguh. Sebaliknya, jika muslimah tidak berdaya maka generasinya akan terpuruk tak berdaya.

Bagaimana seharusnya seorang Muslimah menjalani perannya sebagai Istri dan juga seorang Ibu? Buku Be Em Be karya Ibu tiga anak, Siti Nurdiah akan menjawabnya lewat cerita dan kisah inspiratif yang menyentuh.

Diawal membaca buku Be Em Be Saya sudah dibuat gemas saat membaca kisah seorang ibu beranak tiga.  Kebayang nggak, bagaimana rasanya menghadapi batita yang rewel karena sedang jatuh sakit, anak remaja kesayangan yang tak  mau pergi ke sekolah karena menghadapi bullying di sekolahnya? Sementara itu anaknya yang lainnya senang sekali bereksperimen dengan mengubah rumah bagaikan kapal pecah, bahkan merusak laptop kesayangan sang Bunda disaat ia dikejar deadline. Duh, kebayang banget kacau dan hebohnya…. ( Bab 1; Ibu ErTe)

Dilain kisah, ada seorang istri yang rela bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya karena sang suami kurang bertanggung jawab. Alih-alih menjadi tulang rusuk yang ingin meringankan beban suaminya,  dia justru harus menjadi tulang punggung karena suaminya lebih suka bermalas-malasan dirumah.

Cover Belakang Buku BE EM BE
Suami lebih mengandalkan kerja keras istri. Sedangkan hasil usahanya sendiri lenyap entah kemana. Dia tak pernah memberikan uang sepeserpun pada istrinya. Disaat anak yang kedua harus dibawa ke dokter gigi karena gusinya bernanah, suami beralasan tak punya uang. Ketika ia mendapat rezeki, bukannya diberikan kepada istrinya, dia justru membagikan itu kepada teman-temannya. Alasannya, teman-temannya jauh lebih membutuhkan. ( Mencium Surga, Halaman 45)

Adapula istri yang membuat suaminya menangis tersedu-sedu. Saking terharu dengan sikap istrinya yang berhati mulia. Dia berbohong pada ayahnya sendiri demi menjaga martabat suaminya dihadapan orangtuanya. 

Zaman sekarang ini tidak banyak perempuan yang kuat bertahan dengan laki-laki yang hidupnya susah. Apalagi jika ia berasal dari keluarga kaya. 
Kebanyakan para istri yang berasal dari keluarga kaya raya dan suaminya dari kalangan biasa, akan mengadu pada orangtuanya ketika suaminya tak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.
Tentunya tidak mudah hidup dengan segala kesederhanaan, karena istrinya terbiasa hidup dalam kemewahan. 

Ya, mungkin saja dengan mengadu pada orangtua, mereka akan membantu memberi modal. Atau mungkin sebaliknya, malah meminta anaknya bercerai dari sang suami karena takut anaknya akan hidup susah dan menderita.

Al- kisah seorang Ayah berkunjung ke rumah anak dan menantunya. Dia berkata pada menantunya agar jangan terlalu sering memberi anaknya daging dan buah-buahan, karena anaknya itu sudah bosan makan daging dan buah. Sang ayah juga merasa senang karena kini anaknya hidup bahagia.  Suami itu merasa bingung dengan apa yang dikatakan ayah mertuanya.

Sang Ayah sama sekali tidak tahu, jika selama ini mereka hidup serba kekurangan karena ia hanya bekerja serabutan. Ia tak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, hingga tak jarang istrinya yang berasal dari keluarga kaya raya itu harus rela menahan lapar.  Begitulah jika seorang istri ingin mengangkat derajat suami dihadapan keluarganya, bukan malah menjatuhkan martabatnya. ( Istri Mulia; Halaman 41)

Masih banyak sekali kisah dan cerita seru di dalam buku Be Em Be setebal 246 halaman ini. Buku ini terdiri dari 12 Bab yang membahas dengan rinci kunci menjadi muslimah tangguh.
Melalui cerita, kisah inspiratif dan Quote motivasi, dijamin nggak akan terasa bosan membacanya. Bukan hanya cover bukunya yang khas perempuan, lho. Kertasnya ditulis dengan nuansa berwana pink dengan bunga-bunga disetiap judul cerita, membuat mata nyamn saat membacanya.

Melalui buku Be Em Be ini, Siti Nurdiah; ibu dengan tiga anak ini ingin mengajak Emak- Emak yang lain untuk berlomba – lomba menjadi sebaik-baiknya manusia, yakni menjadi hamba Tuhan yang bermanfaat bagi sesama.
Buku ini layak menjadi koleksi para Muslimah baik yang masih lajang, maupun yang sudah menikah. Kalau mampir ke toko buku, jangan lupa beli buku ini ya…

Judul Buku: Be Em Be ( Bukan Muslimah Biasa)

Penerbit   : PT. Elexmedia Komputindo

Harga       : Rp. 64.800
Sumber gambar: @www.instagram.com/mahivij

Belikan aku bedak dan gincu, Kang!
Aku ingin seperti mereka, dara muda yang seksi dan menggoda. 
Pipinya putih, bersih terawat.
Kau lihat bibirnya, kang? 
Merah menyala... 
Dia menebar senyuman indah pada siapa saja, menarik hati siapa pun yang memandangnya. 
Aduhai...Perempun memang ciptaan Tuhan yang paling mengagumkan.


Belikan aku bedak dan gincu, bang! Agar pesonaku tak memudar dalam di tengah gulita malam. 
Datangi ranjangku dengan gagah, kang. Tenggelamlah bersamaku menembus lapisan awan. 
Aku tak ingin kau melabuhkan hati demi jidat licin dara muda. 
Tubuh si dara masih kencang, Kang..
Dia akan menjeratmu dengan sangat kencang. 
Membuatmu lupa jalan pulang.
Sumber Gambar: www.instagram.com/Mahivij
Belikan aku bedak dan gincu, kang.

Jangan biarkan aku menangis sendiri menangisi tubuhku yang semakin lebar di kanan-kiri. 
Garis-garis itu semakin jelas! Aku malu setiap kali menyentuh pipiku sendiri. 
Tahukah kau, akang sayang.. 
Debu-debu yang menempel di pipi, hanya kubersihkan dengan sabun mandi. Jika wajahku dipenuhi benda asing ini, bukan karena aku malas mandi dan tak mau merawat diri. memang kenyataannya aku begini. 

Tahukah kau, Akang sayang...
Aku bahagia, saat semua memujimu karena kau semakin tampan. Tubuhmu kian gempal berkantong tebal. 
Aku tak menyesal, saat tubuhku berubah jadi gempal. Aku hanya menyesal karena tak bisa membeli bedak dan gincu, hingga dengan mudahnya kau berlari jauh dariku demi seorang dara muda bergincu.

Belikan aku bedak dan gincu, Kang. Akan kubuat kau menyesal membuangku disudut jalan.

                                                                                                                                Tangerang, 26022017


Selamat Pagi....

Hari ini saya mau posting sebuah puisi. Tulisan ini saya tujukan untuk diri sendiri, tidak bermaksud menyindir dan menghujat siapapun. Sungguh, ini hanyalah sebuah refleksi diri, bahwa sebenarnya saya hanyalah manusia biasa. Seorang Hamba Pendosa yang masih penuh cacat dan noda.  Hanya saja Tuhan masih menutup semua aib saya.



KAFIR
Aduhai, diri...
Berhenti mengkafirkan saudaramu sendiri
Duduk dan pejamkanlah matamu
Lihatlah kedalam diri sebenar dirimu
Benarkah mereka yang kau anggap kafir adalah benar-benar kafir, atau sebenarnya...
Kau menunjuk dirimu sendiri?

Duhai diri...
Kafir itu adalah KAU!
Yang mengaku beriman tapi hatimu kosong dari Dia yang kau imani
Kafir itu KAU!
Yang mulutnya mengagungkan Tuhan tapi hatinya mengingkari
Kafir itu KAU!
Yang berjuang ditengah keramaian dengan atribut Tuhan tapi menentangNYa dalam kesunyian
Wahai diri,
Jangan berlindung dibalik kaji
Kajilah dirimu sendiri
Bertanyalah pada diri sebenar diri
Jadilah manusia yang tahu diri
Self reminder
Dini hari
Tangerang 3 Juli 2017



Hai Emak-Emak dan Bunda-Bunda Sholihah...
Pagi ini saya mau cerita. Bukan sekedar rumpi, loh, ya...

Kali ini saya ingin bercerita tentang seorang istri yang depresi setelah dipoligami.

Mak, beberapa tahun yang lalu..
Pagi- pagi sekali biasanya saya  bertugas untuk memandikan "santriwati" dengan gangguan mental dan kejiwaan.

Ibarat memperlakukan seorang bayi, setelah mereka selesai mandi, saya akan membantu mereka memakaikan pakaian, menyisir rambutnya, membedaki wajahnya dan memakaikan jilbab.

Setelah itu mereka akan berjejer rapi dan berjemur di halaman asrama. Ada yang bernyanyi sendiri, ngoceh, marah-marah nggak jelas, dan banyak lagi hal unik yang seringkali membuat saya tertawa melihat tingkah polah para santriwati tersebut.

Suatu hari kami kedatangan  seorang santri baru. Cantik, dan tampak sangat kalem. Dibandingkan santri lain yang sering mengamuk diawal masuk pesantren, dia lebih banyak diam dengan  pandangan yang kosong.

Saat saya mengajaknya berbicara, dia akan diam seribu bahasa. Jika didekati dia akan menangis.
"Oh, mungkin dia hanya mengalami depresi ringan saja" Begitu fikir saya kala itu.

Konon yang membuatnya seperti itu adalah karena dia depresi dengan sikap suaminya. Dia dipoligami. Sang suami lebih memilih istri muda daripada dia.

Awal masuk ke pesantren dia begitu penurut. Tapi beberapa hari kemudian, dia justru jadi sangat kasar dan galak terhadap teman sekamarnya. Dalam satu kamar hanya ada 2 orang. Dia yang pendiam ternyata suka sekali memicu pertengkaran.

Biasanya saat disuruh mandi dia langsung ke kamar mandi. Tapi kali ini, dia mengamuk sejadi-jadinya. Hampir saja dia membenturkan kepala saya ke dinding kamar. Untunglah ada petugas lain yang membantu saya.

Pipi Perempuan itu penuh dengan cakaran, rambutnya berantakan dan awut-awutan.
Semakin hari sikapnya semakin agresif. Dia yang semula masih terlihat sangat cantik, berubah bak pemain sinetron horor.

Saat itu saya belum menikah, saya juga belum mengerti bagaimana mendalami perasaan perempuan yang dipoligami.

Entah mengapa setiap kali bertemu dengan sesama perempuan dia langsung mengamuk sejadi-jadinya, bahkan dengan teman sekamarnya pun seringkali ribut.
Akhirnya, kami terpaksa memindahkannya ke ruangan lain.

Emak-Emak sayang...
Saya beberapa kali bertemu perempuan yang sampai mengalami depresi parah akibat ulah suaminya.
Saya juga pernah beberapa kali bertemu perempuan yang dijual oleh suami.
Ada juga perempuan yang rela menjadi WPSL (Wanita Pekerja Seks Langsung) maupun WPSTL (Wanita Pekerja Seks tidak Langsung) sementara sang suami asyik berduaan dengan perempuan lain. 😭😭😭

Lantas, apakah hal ini membuat saya jadi membenci poligami??

Tidak, Mak. Saya bukan perempuan anti poligami.  Diawal pernikahan, saya pernah mengatakan pada suami tercinta, bahwa jika suatu saat dia ingin berpoligami, silahkan saja. Siapapun yang akan dia nikahi, saya ikhlas dan rela jadi saksi.
Setelah itu saya akan cukupkan tugas dan pengabdian saya sebagai seorang istri. Selesai.

Tahu nggak, apa jawaban suami saya?

"Anti minni, wa ana minki. Laa budda sya'iun fiihi"
Kamu adalah bagian dari diriku dan aku bagian dari dirimu. Tidak ada yang lain selain itu. Hi..hi.. So sweet, yaa...

Sebenarnya bukan hanya itu saja yang membuat dia berfikir ribuan kali untuk berpoligami. Masalahnya saya dan Dia sudah beserta. Dia mengenal saya sebagaimana saya mengenalnya.

Jika boleh meminjam istilahnya Bang Sakhrukh Khan:
" Rabne Bana de Jodhi"; yang artinya:
"Aku melihat Tuhan didalam dirimu. Aku melihat Tuhan didalam diri istriku"

Jadi, Mak... Poligami itu tidak dilarang, asalkan sesuai syariat dan bisa berlaku adil. Namun kalau boleh jujur, nih... Saya angkat topi setinggi-tingginya untuk para suami yang setia dengan satu istri.

"Dan Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya) maka nikahilah wanita lain yang kamu senang: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. "
(Q.S An-Nisa: 3)

Jadi, Emak-Emak Sholihah..

Jika Emak sanggup bertahan dan sanggup dipoligami oleh suami, maka bertahanlah. Tapi jika tidak, tidak ada paksaan untuk itu.

Tidak semua perempuan sekuat batu karang. Ada yang kuat dan enjoy saja saat suaminya berpoligami, ada juga yang depresi dan justru menyakiti dirinya sendiri. Bukankah sebaik-baiknya suami adalah yang baik akhlaknya terhadap keluarganya?
Lantas bagaimana jika sang suami malah membuat istrinya depresi dan mengalami gangguan kejiwaan setelah dipoligami?

Jadi Mak, jangan saling menjatuhkan hanya karena Emak yang satu menolak dipoligami sedangkan Emak yang lainnya ikhlas dipoligami. Jangan...

Jangan merasa Emak paling baik dan paling dijamin masuk surga hanya karena sudah menjalani poligami. Karena jaminan surga bukan hanya dari poligami.

Ada banyak pintu surga yang bisa kita raih. Jangan mencari surga, tapi jangan pernah mendekati neraka. Dekati saja pemilikNya.
"LIHATLAH TUHANMU DI DALAM DIRI KEKASIHMU"

Tulisan ini pernah saya share di channel telegram:
t.me/NurdianahDixit